Surat Untukmu, Nak : “Jadilah Cahaya Kehidupan dengan Al-Qur’an di Hatimu”

Teruntuk Ananda tercinta

Di suatu masa

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Alam baru saja disapa air hujan membawa udara sejuk. Sesejuk hati yang baru terbasuh air wudhu, menunggu panggilan suci di senja ini.

Setinggi puji, sedalam syukur kehadirat Ilahi Rabbi Pemberi Rizki yang tak pernah henti.
Shalawat dan salam tercurah limpah kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan ijinNYA merubah gelap menjadi terang, bodoh menjadi berilmu, sesat menjadi selamat, penyebar rahmat bagi seluruh alam.
Dengan ijinNYA, di senja ini Bunda mencoba merangkai kata dan asa, “ Untukmu Wahai Anakku di Suatu Masa.”

Anakku…
Setiap melihat anak kecil, mata Bunda seakan membesar, senyum merekah, wajah berseri, seolah hidup tanpa masalah. Melihat tingkah polahnya nan lucu dan tawa renyahnya yang mengundang kerinduan hati akan kehadiranmu disisi Bunda.
Anakku…
Kerinduan akan hadirmu begitu membuncah ketika Bunda menyaksikan video “Garden of the Qur’an”. Video singkat itu memperlihatkan anak-anak Palestina korban penjajah yang tak berkemanusiaan “Yahudi laknatullah” membaca dan menghafalkan Al-Qur’an di usia dini. Di usia masih dini, kegiatan keseharian mereka hanya diisi dengan setoran hapalan hingga menghantarkan mereka pada gelar Hafidz. Seiring waktu Hafidz cilik itu bertambah banyak dan semakin menggetarkan ketakutan dan kecemasan di hati para Pemimpin Yahudi. Semoga kau menjadi salah satu Hafidz cilik itu,
Nak!

Anakku…
Itulah salah satu tujuan Bunda ingin melahirkanmu dari rahim yang selalu kujaga kesuciannya. Menjadikanmu sebagai penghapal Kalam Ilahi yang akan menyelamatkanmu di akhirat kelak. Tugas ini memang tidaklah mudah, butuh persiapan dan kesungguhan hati yang kuat. Tapi dengan izinNYA, semua itu akan terwujud anakku.

Anakku…
Suatu hari, Bunda mendengar taushiyah tentang “Bagaimana Membentuk Anak Sholeh dan Hafidz Al-Qur’an”. Ternyata, jauh hari sebelum kau lahir, persiapan itu sudah harus dilakukan. Akhlak, fikrah dan fisik dari calon Ayah dan Ibu akan mempengaruhi akhlak, fikrah dan fisik seorang anak. Dengan ijinNYA, Bunda berusaha mencari ilmu Tarbiyatul Aulad, lebih menjaga sikap agar selalu berakhlakul karimah, dan lebih mendekatkan diri pada Sang Maha Pengatur setiap kejadian, ALLAH SWT. Bunda pun menanti kedatangan ayahmu. Seorang lelaki yang mencintai dan dicintai Allah serta RasulNYA, Seseorang yang TERBAIK untukmu. Dengan ijinNYA suatu saat Bunda dan Ayah akan dipertemukan, lalu diikat dengan ikrar “Mitsaqon Ghaliza “ untuk membentuk sebuah keluarga dakwah yang “ Sakinah Mawaddah wa Rahmah. “

Anakku…
Untuk menanti kehadiranmu kelak, Ayah dan Bunda tengah membangun suatu rumah. Rumah itu bukan sekedar tempat istirahat di kala lelah, tempat berteduh di kala panas atau hujan. Melainkan sebuah rumah berkonsep surga : “Baiti Jannati”. Sebuah tempat dimana kau akan dilahirkan dan dibesarkan dengan iman, cinta dan kasih sayang yang berlimpah. Di tempat itu kau akan selalu mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, bahasa cinta dan hikmah hidup. Takkan ada cacian, teriakan, apa lagi kata-kata kotor. Sebuah tempat awal, Bunda akan mengenalkanmu pada Sang Pencipta dirimu, Allah SWT. Membimbingmu mengenal huruf hijaiyah dan ilmu Allah lainnya.

Anakku…
Dengan ijinNYA, kelak kau akan mengisi rahimku. Di saat itu Bunda dan Ayah berucap Syukur karena kami berdua dipercayaiNYA untuk menjaga dan mendidikmu. Karena kau adalah amanah atau titipan dari- NYA. Ayah dan Bunda akan menjagamu, merawatmu dan mendidikmu ketika kau masih bersembunyi dibalik kulit perutku. Di masa kehamilan itu, Ayah dan Bunda akan selalu melantunkan Ayat Al-Qur’an sebagai pendidikan awal bagimu untuk menjadi Hafidz. Serta membaca buku, mengajakmu berbincang untuk merangsang sel-sel otakmu berkembang dan terhubung satu sama lain. Selain itu, Ayahmu memberikan makanan sehat dan bergizi tinggi agar kau berkembang dengan baik di dalam sana, dan tak lupa makanan itu pun harus halal karena itu akan mempengaruhi akhlakmu nanti. Bunda akan selalu menjagamu, Nak, dan akan selalu memberitahu ayahmu agar menghindari barang-barang yang tidak jelas akan ke halalannya.

Anakku…
Seiring dengan waktu, perut Bunda bertambah besar, menandakan kau tumbuh di rahimku. namun menyebabkan ruang gerak Bunda menjadi sempit. Akan tetapi Itu takkan menghalangi Bunda untuk terus menebar kebaikan dan manfaat untuk orang lain. Itu Filosofi hidup Bunda dan Ayahmu tentunya, “Khairun naas anfa’uhum linnas = Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain”. Kami pun sedang mendidikmu Nak, bahwa kau harus terus menebar kebaikan dalam keadaan apapun. Maafkan Bunda, Nak, jika nanti kau ikut lelah karena banyak kegiatan syiar yang dilakukan. Semoga kau mengerti.

Anakku…
Tiba saatnya yang dinantikan Ayah dan Bunda, kehadiranmu di dunia ini. Dengan ijinNYA, mungkin KEHADIRANmu menggantikan KETIDAKHADIRANku. Bisa terjadi dan mungkin terjadi! Karena saat itu, Bunda tengah merasakan sakit yang luar biasa, keadaan yang memperjuangkan nyawamu dengan memperjuangkan nyawaku. Dua sisi yang berdekatan : KEMATIAN dan KEHIDUPAN. Jika pun akhirnya Bunda meninggalkanmu, Allah telah menjanjikan Pahala seorang yang mati Syahid dijalanNYA. Tak perlu kau merasa bersalah karena inilah cita-cita Bunda meninggal dalam keadaan syahid. Itulah takdir Allah untuk kita dan wajib kita mengimaninya. Usah kau lara sendiri karena masih ada Ayah disisimu.
Akan tetapi dengan ijinNYA pula Bunda akan selamat. Pada saat itu Bunda menjadi manusia baru karena dengan melahirkanmu seluruh dosa-dosa terampuni. Senyum dan tangis bahagia berurai menjadi satu. Kau adalah anugerah terindah dalam hidup.

Anakku…
Setelah kau keluar dari rahimku dengan segera Ayah mendekapmu dan melantunkan adzan di sisi kanan telingamu dan iqomat di sisi kiri telingamu. Itulah yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, untuk melindungimu dari bisikan syetan musuh abadi kita. Selain itu, Ayah dan Bunda telah menyiapkan sebuah nama terindah untukmu. Sebuah doa yang terangkai dalam nama agar kelak kau menjadi seorang Khalifah /pemimpin orang-orang sholeh yang menjadikan Al-Qur’an dan As-sunah sebagai pedoman hidup. Itulah harapan bunda akan hadirmu kini.

Anakku…
Seiring bergulirnya waktu kau tumbuh menjadi seorang pemuda atau gadis yang beranjak Balig. Ayah dan Bunda membimbingmu jauh sebelum kehadiranmu hingga kau beranjak balig. Mewarnai hidupmu dengan ajaran Islam yang sempurna, ayat Al-Qur’an yang selalu kau lantunkan hingga hapal seluruhnya, kisah teladan Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, orang-orang sholeh dan tokoh-tokoh dunia yang selalu mengantarkan tidurmu. Jangan kau lepas semuanya itu, hanya untuk kesenangan dan kebebasan masa muda yang sesaat. Di saat itu dunia dan akhirat bersaing untuk menggodamu. Manakah yang kau pilih kesenangan Dunia atau kesenangan Akhirat?
Di usiamu kini,
Bantu Bunda untuk tetap mempertahankan iman dihatimu
Bantu Bunda selalu dekat dan memahami karaktermu
Bantu Bunda untuk selalu bisa berkomunikasi terbuka denganmu
Bantu Bunda untuk tahu di saat kau sedih dan membutuhkanku
Bantu Bunda untuk selalu tahu apa keinginanmu dan memahami duniamu
Karena Kau adalah anak zamanmu bukan zamanku dulu
Bantu Bunda dan Ayah untuk menjadi orangtua terbaik
Anakku, Harapanku
“Jadilah CAHAYA KEHIDUPAN dengan Al-Qur’an di hatimu”

Dalam kerinduan akan hadirmu, di seperempat abad perjalanan hidup.
Bundamu

Setelah membaca isi surat ini, hati menjadi terenyuh karena adanya kerinduan yag sama dalam diri dan pasti dlam diri setiap Ibu maupun calon ibu dimanapun berada. Semoga kita semua dapat memiliki buah hati yang akan menjadi qurata a’in baik di dunia maupun di akhiratnya kelak.

Mohon ijin copas ya dari Fb Eli Siti Halimah (*tulisan pertama setelah membaca buku Mengikat Makna dan sedang mencoba dilombakan ” surat untukmu, nak. Dari calon ibumu/ayahmu” keterangan lebih lanjuthttp://azkamadinah.wordpress.com/2010/lomba surat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s